Andaliman: Bumbu Tradisional Batak Siap Menggoyang Pasar Internasional
Temukan kelezatan Andaliman, bumbu tradisional Batak yang siap menaklukkan pasar internasional. Artikel ini mengulas potensi Andaliman sebagai rempah khas yang menggugah selera dan sekaligus memperkenalkan budaya Batak ke dunia. Jangan lewatkan informasi menarik tentang keunggulan dan cara pemanfaatannya!

Andaliman: Bumbu Tradisional Batak Siap Menggoyang Pasar Internasional

Andaliman: Bumbu Tradisional Batak Siap Menggoyang Pasar Internasional

Keberhasilan CV Andaliman Mangintir: Menghadirkan Sambal Andaliman ke Seluruh Dunia

Ranap Manurung (50) melalui CV Andaliman Mangintir telah berhasil membawa cita rasa sambal andaliman yang khas ke lidah penikmat di seluruh Indonesia dan mancanegara. Rempah yang dikenal sebagai merica Batak dari Sumatera Utara ini menawarkan rasa unik yang telah merebut hati banyak pelanggan.

Di Galeri Taman Eden 100, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba, Ranap dengan penuh semangat menatap layar ponselnya. Sebuah notifikasi dari aplikasi marketplace menandakan adanya pesanan baru dari seorang pelanggan di Pulau Jawa yang ingin membeli sambal andaliman dalam jumlah besar. Dengan senyuman, ia segera mencatat pesanan tersebut dan memeriksa produk yang siap dikirim, termasuk botol-botol sambal andaliman yang terkemas rapi.

Beragam Produk Olahan Andaliman

Selain sambal, CV Andaliman Mangintir juga memproduksi berbagai olahan berbahan andaliman, seperti bandrek, teh, keripik, jamur renyah, dan biji kering. Produk sambal tersedia dalam berbagai ukuran, dikemas dalam botol kaca dan pouch praktis. "Saya ingin menghadirkan andaliman dalam bentuk yang lebih mudah diakses oleh siapa pun," ungkap Ranap.

Perjalanan Bisnis yang Inspiratif

Ranap sebelumnya bekerja di Batam selama belasan tahun sebelum memutuskan kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan potensi andaliman. "Setelah berdiskusi dengan teman-teman, kami menyadari potensi besar andaliman di sini," kenangnya. Dengan tekad, ia mendirikan UMKM Andaliman Mangintir pada tahun 2017 dan mulai memproduksi sambal.

Transformasi Digital untuk Ekspansi Pasar

Sejak pandemi COVID-19, CV Andaliman Mangintir bertransformasi dari pemasaran tradisional ke digital. Mereka kini menjual produk melalui berbagai platform, termasuk media sosial dan marketplace. "Kami gencar melakukan penjualan online, dan hasilnya sangat memuaskan," kata Ranap. Pendapatan bersih dari penjualan online mencapai Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per bulan.

Menembus Pasar Global

Produk andaliman kini tidak hanya diminati di pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar internasional, termasuk Jepang dan Amerika Serikat. "Kami rutin mengirim produk ke Jepang dan Amerika," tambah Ranap. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa sambal andaliman telah menjadi produk yang diminati di luar negeri.

Pentingnya Digitalisasi untuk UMKM

Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Sumut menunjukkan bahwa hanya 3,73% UMKM yang terdaftar di platform digital. Oleh karena itu, penting bagi pelaku UMKM untuk beradaptasi dengan digitalisasi agar dapat bersaing. "Transformasi mindset dan keterampilan digital sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing," ujar Kadiskop UMKM Sumut, Naslindo Sirait.

Menciptakan Pasar Tanpa Batas

Marketplace berperan penting dalam mempertemukan penjual dan pembeli secara digital. "Dengan marketplace, produsen dapat mengumpulkan data dan informasi yang berguna untuk pengembangan bisnis," kata pengamat ekonomi Gunawan Benjamin. Pemerintah juga diharapkan dapat mendukung inovasi UMKM dalam hal digitalisasi agar mereka dapat bersaing di pasar global.

Comments

https://blog.hitabatak.com/assets/images/user-avatar-s.jpg

0 comment

Write the first comment for this!